Diskusi tentang kepedulian

Posted: 7, 2010 in Uncategorized

Dalam salah satu forum diskusi(situs tertentu) tentang kepedulian keluarga saya menemukan masalah yg cukup menarik perhatianku, inilah masalahnya:

Kami punya saudara, yg salah satunya mampu dlm segi ekonomi(berkecukupan) tapi sayang jarang membantu adik2x yg kekurangan padahal di lingkungan ke agamaan aktif berorganisasi.Bahkan utk ber’say helo'(menanyakan kabar)pun jarang dia lakukan, dia jarang sekali untuk mau tau tentang keadaan saudara saudaranya lha wong gak pernah cari tau kabar saudaranya,setelah di kasih tau baru dia membantu se adanya .
Dia sering tidak mau membantu alasannya :  banyak kebutuhan katanya , tapi untuk jalan jalan ke luar negri dia bisa.
Kalaupun  menerima permintaan itu setelah didesak dan sedikit berantem mulut.

Salah satu bantuan yg di harapkan perlu diperhatikan adalah biaya pendidikan(smp/sma) utk anak anak kita pada awal tahun pelajaran,tetapi dengan berbagai alasan dia menolak permintaan itu,salah satu alasan itu adalah biaya itu kan biaya yg terencana dan harus diantisipasi sebelumnya,padalah untuk kebutuhan se hari hari aja harus gali lobang tutup lobang(UTANG SANA UTANG SINI).
Dan akhirnya kami saudara saudara lain(yg pas pas an juga) membantunya dgn gotong royong dan itu terus berulang ulang karena kami tidak bisa tuntas, bantuan kami sesuai dgn kemampuan masing masing.

Jawaban dari peserta diskusi :

A.Berdasarkan pengalaman, salah satu alasan pihak yang mampu enggan memberi bantuan adalah rasa khawatir bahwa sekali (atau dua kali atau tiga kali) dia memberi bantuan, maka dia akan dijadikan sapi perah. Dalam arti bahwa pihak-pihak yang diberi bantuan akan tergantung dan minta secara terus menerus kepadanya. Padahal dia juga tidak bisa selalu sukses dan dia punya permasalahan sendiri.

B.

Ini memang fakta, yang membuat aku sering bertanya.

Apakah keberhasilan “si adik” adalah hasil urunan keluarga yang lain sehingga “si adik” harus membantu saudara yang lain? Mengapa yang lemah merasa harus ditolong oleh yang berhasil? Mengapa yang lemah tidak bisa berhasil? Kita semua memiliki talenta yang berbeda namun 1 talenta nilainya emas di Monas, sehingga seharusnya bisa mencukupi kehidupannya sendiri.

Dalam hal membantu, kita perlu berpikir tidak hanya memberikan kail saja, tapi mengajarkan bagaimana mencari kayu yang tepat dst sehingga kail itu bisa dibuat, bagaimana bisa memancing dst……. (ini sih dah kelewatan kalau masih tanya mancingnya dimana? Wink).

Kondisi ini juga terjadi pada adikku, yang selalu merasa perlu dibantu. Keberhasilan saudara yang lain adalah melalui perjuangan, keringat, rasa lapar dan haus.

Apakah aku tidak berhak membelikan pizza sebulan sekali pada anakku, karena dia tidak jajan seperti anak adikku?

C.

rasanya ini masih relatif.. karena ada banyak faktor yang mempengaruhi..
jika murni demikian adanya harusnya kemiskinan bisa sangat minim, atau tidak perlu menyebut manusia itu mahluk sosial (saling membutuhkan orang lain).

misalnya saja, seorang petani yang memiliki talenta bercocok tanam, namun sayang suatu ketika alam kurang bersahabat dengan datangnya hujan lebat dan banjir atau musim kemarau yang terlalu berkepanjangan, sehingga panen gagal total.. padahal itu satu2nya pendapatan utamanya..
bukankah wajar bila memerlukan bantuan dari orang lain (meski tidak melulu berupa materi)? ataukah petani tsb kurang memanfaatkan talentanya?

namun saya setuju, jika bantuan tidak melulu berbentuk materi (istilah kail dan memancing ).. atau tidak berupa secara materi langsung (dapat berupa cara lain, yang memang nantinya bisa berbuah “materi” misalnya), sekedar contoh saja : mencarikan pekerjaan / usaha sampingan bagi anak saudaranya tsb hingga dapat membiayai sekolahnya sendiri

Dijawab oleh yg punya masalah :

perlu saya jelaskan ketimpangan ekonomi antara adik saya perempuan ini utk banyar listrik 450 watt aja sering berhutang atau nunggak sedangkan adik saya yg mampu utk jalan jalan ke luar negri aja mampu, menurut saya utk menolong yg lemah itu wajar apalagi itu saudara kandung,sebetulnya dia bisa menyisihkan alokasi dana ter tentu(misal dana jalan jalan /makan makan bulanan) dan pasti tdk membikin dia akan bangkrutkan dan bantuan yg di butuhkan juga sporadis kok tdk terus menerus,jauh dari pikiran kami untuk menjadi kan sapi perah.
D. 1. Saran pertama, adalah: Jangan pernah mengukur kekayaan dan kenikmatan orang lain. Jika mau menghitung, maka hitunglah rahmat yang kamu miliki. Bersyukurlah.

2. Aku paham kalau adikmu itu menjauh dan yang dikatakan “terencana” ini adalah kata kunci yang mana perlu kamu perhatikan. Buatlah rencana untuk sang adik tsb.

3. Hitunglah rahmat adikmu yang lemah, dan coba beri tahu dan buatlah dirinya percaya kalau dia dan suami mampu untuk melakukan sesuai dengan rahmat yang mereka miliki. Jika ini tidak berhasil, maka lupakanlah segalanya. Karena semua akan sia2.

4. Buatlah proposal (kata kerennya) pada si kaya, buatlah pendekatan persuasif dan pilihlah seorang di antara kalian yang bisa mempertanggungjawabkan proposal dan kelanjutan dari usaha yang akan dirintis. No. 4 ini biasanya juga akan saling lempar2an. Kalau ini terjadi maka lupakanlah segalanya.

5. Si adik perempuan butuh bukan hanya sokongan dana, tapi sokongan semangat dan motivasi. Mungkin kamu yang bisa memberikan itu, sanggupkah?

6. Fokuskan pada adik perempuan tsb, apakah dia sanggup jika melakukan hal yang produktif? Kekayaan adikmu adalah tangan-kaki, pikiran, mata dan masih banyak yang bisa digunakan untuk melakukan sesuatu. Yang penting: KEMAUAN.

7. Perlu kamu ingat, adik perempuanmu itu bukan lagi adik kecilmu yang lemah. Dia seorang istri dan seorang ibu dari 3 anak. Dia yang bertanggungjawab untuk kehidupan keluarga.

8. Berani berbuat berani bertanggung jawab.

9. Jika listrik tidak bisa bayar, jangan gunakan listrik. Maaf aku keras. Beli lilin, kalau lilin lebih mahal, maka pikirlah bagaimana supaya bisa membayar listrik?

10. Manusia dibekali akal budi untuk mempertahankan hidupnya. Gunakanlah secara maksimal. Jika batas kemampuan sampai titik xx maka hiduplah pada titik xx.

12. Adikmu yang kaya, tidak menjadi kaya karena mendapat warisan lebih dari orangtuamu bukan? Dia kaya karena usaha/pilihannya sendiri.

13. Kehidupan berkeluarga/bersaudara TIDAK bisa menjadikan kata HARUS dalam hal tolong menolong, keluarga adalah institusi yang mandiri.

14. Jangan lagi membuat excuses untuk adik perempuanmu, tapi buatlah rencana yang terencana disertai kemauan dari sang adik untuk maju. Adikmu yang kaya akan mengabulkan jika memang itu akan membuat adik perempuanmu lepas dari jeratan hutang2.

Aku teringat cerita seorang mantan seminari……. kami tetap membayar untuk uang sekolah …… walaupun kami hanya mampu membayar 1 kaleng beras. Orangtua kami berusaha menyisihkan bagian kami dan mengumpulkan dalam kaleng2. Di waktu lain, ibuku menanam sayuran agar bisa diantar ke seminari untuk kami makan. Orangtua kami berusaha memberikan yang terbaik untuk kami.

TIDAK ada yang gratis dan mudah dalam hidup, yang dibutuhkan adalah kemauan dan rasa syukur.

Di jawab oleh yg punya masalah ini :

Itu lah ucapan atau teori yg sering di ucapkan oleh si kaya itu,padahal masalahnya sederhana sekali ada seorang kakak yg mampu utk membantu tapi dia tdk mau melakukannya dan usulan no 4, ini bisa dia lakukan tanpa harus di dorong dorong oleh pihak lain
Saya sebagai kakak dari kedua nya membiarkan situasi itu,pantaskah?

“Kehidupan berkeluarga/bersaudara TIDAK bisa menjadikan kata HARUS dalam hal tolong menolong, keluarga adalah institusi yang mandiri.”
Maaf kalau saya tdk begitu setuju…….. karena kita hidup di Indonesia yg menganut gotong royong dan kebersamaan apalagi dalam keluarga.

“Jika listrik tidak bisa bayar, jangan gunakan listrik. Maaf aku keras. Beli lilin, kalau lilin lebih mahal, maka pikirlah bagaimana supaya bisa membayar listrik?” Maaf ini adalah hanya salah satu contoh….yg saya tekan kan yaitu ketimpangan antara si kaya dan si miskin terlalu jauh.

Terima kasih atas saran sarannya dan saya usahakan untuk saya lakukan,semoga adik saya yg kaya ini supaya lebih peduli akan saudara saudaranya terutama yg lemah

E. Kehidupan berkeluarga/bersaudara TIDAK bisa menjadikan kata HARUS dalam hal tolong menolong, keluarga adalah institusi yang mandiri.”

Maaf, prinsip itu adalah masalah adat/tradisi. Bukankah dalam ajaran kita diajarkan untuk mengesampingkan hal tsb? Tapi bukan berarti tidak peduli.

Semut saja bisa mencari makan sendiri.

Paham seperti itulah yang membuat bangsa kita jadi lemah, menuntut keluarga yang berhasil untuk jadi sapi perah. Ini adalah pembodohan dan merusak mentalitas manusia yang kita pikir kita cintai, tapi sebetulnya justru kita merusak orang yang kita cintai.

Jangan pernah mengukur pemberian orang dari jumlahnya, tapi bersyukurlah dengan jumlah yang telah kamu dapatkan. Maka akan terbukalah pintu kecerahan akan berkat tsb, yang akan membawa kelimpahan rahmat yang melipat gandakan berkat yang sedikit itu.

Apakah ketimpangan ini adalah akibat si kaya tidak membantu si miskin? Dalam hal ini adik perempuanmu telah memilih jalan hidupnya. Bantuan adalah sekedar bantuan yang sesuai dengan kerelaan pemberi.

Kamu berpikir menurut pikiranmu sendiri dan tidak pernah mau mengerti/tahu apa yang membuat si kaya berhasil. Perencanaan dan antisipasi.

Ubah dulu prinsipmu, niscaya si kaya akan menolong dengan suka cita

Di jawab oleh yg punya masalah :

Seakan akan kamu tahu sdh berapa banyak si kaya itu membantu si miskin itu,dalan usianya yg sdh 50 tahun bisa di hitung tdk sampai 5 jari di tangan kananmu (tdk terus menerus),boro boro utk di peras kekayaannya, karena apa…….dia terlalu asik dengan keadan dia sendiri dan tak pernah tahu/tidak mau tau kabar /keadaan adik adik nya.
Yang saya tau kita mengajar kan tentang gotong royong dan kebersamaan itu,kok kenapa malah dikesampingkan paham itu dan kalau kepedulian itu ada pada pikirannya pasti situasi ini tdk akan terjadi
Kamu juga tak pernah berpikir kenapa orang bisa miskin ………situasi keadaan yg tak bisa dipungkiri dan seribu alasan yg hanya orang lemah bisa merasakan.
Yang di maksud peduli itu tdk terus menerus membantu…… dan paham kebersamaan itu masa jadi pembodohan dan merusak mentalitas manusia……wah kejauhan analisa anda.

F.

memang harus diakui toleransi maupun rasa tolong menolong saat ini kebanyakan menjadi sebuah pilihan individu, yang dulunya mungkin bisa dikatakan menjadi sebuah kewajiban maupun keharusan (meski bukan berupa materi).

apa yang bapak  dan saudara2 lain yang masih peduli dan mau membantu sudah sangat baik sekali, jika memungkinkan tetaplah dilakukan.. dan dicoba dicari solusinya agar efek bantuan tsb bisa bertahan lama (misalnya seperti yg sempet saya sebut, mencarikan usaha sampingan, pekerjaan sampingan, ataupun hal2 di luar materi yang nantinya dapat menghasilkan materi).

yah roda kehidupan ini pasti berputar.. semoga keadaan kedepannya bisa lebih baik lagi..
baik bagi di adik, maupun relasi si kakak tersebut..

jadi inget kata seorang teman saya, “sebenarnya kita di dunia ini sedang berlomba untuk mendapatkan tiket ke surga, dan kita hanya bisa dan wajib berbuat semaksimal mungkin yang terbaik untuk mendapatkan tiket terbatas tersebut.
tidak apa2 miskin, susah, menderita, penuh duka lara, dll.. yang penting layak mendapatkan tiket terbatas itu.”

G. 1. teruslah bergotong royong di antara kalian yang mau membantu dan memperhatikan satu sama lain, jangan mengandalkan adik anda lagi.

2. Kecuali dalam kondisi yang sangat memaksa, dimana kalian sungguh memerlukan bantuannya karena kekurangan yang signifikan walaupun sudah dilakukan secara bergotong royong, bolehlah kalian meminta bantuannya. Tetapi jika ia tidak mau membantu, cobalah cari cara lain, misal dengan meminta bantuan paroki. Setahu saya, ada paroki yang mengadakan program beasiswa, orang tua asuh atau bantuan sosial untuk keluarga yang kurang mampu. Ada juga paroki yang membuka program pinjaman ringan untuk pengembangan usaha. Ini alternatif yang bisa dilakukan. Berusahalah sebisa mungkin untuk tidak mengandalkan kemampuan materi-nya untuk menghadapi masalah ekonomi keluarga.

3. Walaupun demikian, janganlah memusuhi saudara anda itu. Bagaimanapun anda harus memaafkan atas ketidakpedulian-nya itu. Dan kelak bila ia membutuhkan bantuan, dan kalian bisa membantunya, jangan abaikan permintaannya. Kalian harus menolongnya dan jangan membalas perbuatannya yang lalu dengan hal yang sama. Jika itu dilakukan, apa pikirkan apa bedanya anda dan adik anda. Jangan menyisihkan dia di antara saudara2 anda. Jika ada saudara anda yang berbuat demikian, maka anda-lah yang perlu menjadi pendamai.

4. Cara menyadarkannya butuh waktu yang relatif lama atau setidaknya ada suatu kejadian yang membuatnya sadar akan pentingnya hidup tolong menolong di antara sesama terlebih saudara sendiri. Jadi cara yang bisa anda lakukan adalah menjadikannya sebagai adik anda Smile ini akan membuat hidup anda lebih ringan, kerana pikiran anda tidak terbelenggu memikirkannya. Percayalah.

Jangan lupa berdoa.. doa orang benar besar kuasanya.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s