Ruwatan (boleh tidak yah… menurut agama)

Posted: 31, 2010 in Uncategorized

Inkulturasi: apakah ruwatan diperbolehkan?

Ditulis oleh Stefanus Tay on May 26th, 2009 di kategori: TJ: Misi-Evangelisasi, Tanya-Jawab. Ikuti yang terbaru dari tulisan dan komentar ini lewat RSS 2.0. Silakan meninggalkan pesan/pertanyaan.

Pertanyaan:

Shalom Bu Ingrid/Bp Stef.

Saya ingin menanyakan sikap gereja tentang tradisi ruwatan. Tradisi ini
khususnya di beberapa daerah Jawa Tengah cukup kuat. Dan kelihatannya beberapa imam terkesan menerima tradisi ini sebagai inkulturasi dalam gereja Katolik. Ada juga yang bahkan menggabungkannya dalam perayaan ekaristi sekaligus. Beberapa link bisa dicari di Google, diantaranya sbb: http://indopos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=71111
http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=3608
http://www.gerejakotabaru.com/inc_index.php?mod=beritadtl&c=0&id=132

Saya orang Jawa Tengah dan sejauh saya tahu tradisi ini banyak unsur tahyulnya. Mereka yang percaya dengan tradisi ruwatan menganggap bahwa anak-anak yang dilahirkan dengan kondisi tertentu (misalnya anak tunggal, anak sepasang, 3 anak dengan anak kedua perempuan dll) membawa “sukerto” (sial). Nah “sukerto” ini harus dihilangkan dengan upacara ruwat yang biasanya dilakukan oleh dalang dg membaca mantra, memotong rambut para “sukerto” dan potongan rambut ini dibuang di laut Selatan.

Yang ingin saya tanyakan:
1. Bagaimana sikap gereja Katolik terhadap tradisi semacam ini?
2. Apakah yang dilakukan oleh imam yang mengadakan upacara ruwatan tsb tidak kebablasan, apalagi menyatukanya dalam perayaan ekaristi. Termasuk abuse kah? Banyak pro/kontra di kalangan umat. Bukankah ini bisa menjadi batu sandungan?

Sekedar gambaran lain, sebuah keluarga Katolik di lingkungan saya yang memiliki anak “sukerto” meminta imam untuk mengadakan perayaan ekaristi di rumahnya dengan mengundang umat satu lingkungan. Keluarga tersebut meminta imam itu untuk sekaligus meruwat anak-anaknya. Imam tersebut menyanggupi untuk mengadakan perayaan ekaristi tetapi tentang upacara ruwatan apa jawab beliau? Beliau mengatakan bahwa sebagai pengikut Kristus kita seharusnya tidak lagi percaya dengan hal-hal semacam itu. Kita semua sudah diperbarui/diruwat dengan pembabtisan yang kita terima. Nah, akhirnya perayaan ekaristi tetap dilakukan tetapi ruwatan tidak dilakukan. Sebagai gantinya imam mengajak seluruh umat untuk memperbaharui janji baptis (seperti yang dilakukan saat malam Paskah).
Terus terang saya pribadi lebih setuju dengan apa yang dilakukan oleh imam ini. Saya bisa memahami bahwa mewartakan Kristus apalagi di daerah-daerah yang masih kental dengan tradisi-tradisi lokal dimana tradisi ini banyak yang tidak sejalan dengan iman Katolik adalah tidak mudah. Diperlukan banyak cara agar kabar gembira yang kita sampaikan bisa diterima oleh mereka tentunya tetap mengacu dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh gereja.
GBU – Ryan09

Jawaban:

Shalom Ryan,
Terima kasih atas pertanyaannya. Masalah inkulturasi memang tidak mudah, karena menyangkut proses yang lama dan memerlukan kebijaksanaan dalam penerapannya.
Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa “proses integrasi Gereja ke dalam budaya tertentu adalah suatu proses yang panjang. Hal ini bukan hanya masalah adaptasi eksternal, karena inkulturasi adalah suatu transformasi yang dalam dari nilai-nilai budaya yang otentik melalui integrasi nilai-nilai tersebut ke dalam kristianitas, dan juga mengintegrasikan kristianitas ke dalam berbagai macam budaya manusia.” (Redemptoris Missio, Ch. V). Namun lebih lanjut, Paus Yohanes Paulus menegaskan kembali bahwa di dalam proses inkulturasi, integritas dari iman Katolik tidak boleh dikorbankan .
Kerena Gereja Katolik senantiasa bersentuhan dengan kehidupan banyak orang dan budaya, maka Gereja perlu merenungkan dan mengadaptasi diri tanpa mengorbankan nilai-nilai iman Katolik, seperti yang telah ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II. Gereja harus mampu untuk memberikan nilai-nilai kekristenan, dan pada saat yang bersamaan mengambil nilai-nilai yang baik dari budaya yang ada dan memperbaharuinya dari dalam.
Pertanyaannya adalah, apakah ruwatan yang dilakukan, seperti memotong rambut, membaca mantra yang diganti dari Injil Yohanes, dan membuang rambut serta selempang kain putih yang dipakai oleh sukerta (yang membawa sial) dapat dibenarkan?

1) Untuk menjawab pertanyaan ini saya pribadi berpendapat bahwa kita sebaiknya kembali kepada prinsip dasar dari inkulturasi, yaitu apakah dengan melakukan ruwatan dengan pengertian di atas dapat mengorbankan nilai-nilai iman Kristiani. Memang ada kemungkinan bahwa setelah mereka menjalankan upacara ini yang dilakukan di dalam Ekaristi, maka para sukerto mendapatkan suatu ketenangan. Namun di satu sisi, hal ini dapat menimbulkan efek negatif, yaitu seolah-olah baptisan yang telah diterima tidak mampu menjadikan mereka manusia yang baru. Rasul Paulus mengatakan “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rm 6:4). Manusia yang lahir baru telah diperbaharui oleh Allah dari dalam, sehingga tidak perlu takut untuk menghadapi badai kehidupan.
Sebenarnya dengan alasan yang sama, maka retret pohon keluarga juga dilarang oleh beberapa keuskupan di Indonesia. Kalau retret pohon keluarga yang tidak bersentuhan dengan nilai-nilai budaya dilarang, maka menjadi lebih masuk akal jika upacara ruwatan di dalam misa juga tidak dilakukan.
2) Namun permasalahannya adalah, para sukert0 mungkin masih belum merasa sreg dengan berkat yang telah mereka terima dalam pembaptisan. Oleh karena itu, mungkin yang perlu dilakukan adalah memberikan pengarahan bagi para sukerto, sehingga mereka dapat mengimani berkat pembaptisan yang telah diberikan oleh Allah. Mengimani dalam hal ini bukan hanya sekedar tahu, namun juga dapat diterapkan dalam kehidupannya.
3) Saya pribadi setuju dengan contoh yang ke-dua, dimana imam tidak memberikan upacara ruwatan, namun memperbaharui janji baptis. Dengan tindakan ini, maka imam tersebut tidak mengaburkan nilai-nilai kristiani, namun meneguhkan para sukerto, sehingga mereka dapat percaya dengan sepenuh hati bahwa mereka telah lahir baru sebagai akibat dari sakramen baptis yang telah mereka terima.

Semoga para pastor dapat mendiskusikan masalah inkulturasi ini dengan lebih seksama dan mendalam, sehingga Gereja dapat tetap mempertahankan nilai-nilai iman Katolik, namun secara bersamaan juga dapat masuk dalam budaya lokal.
Semoga keterangan tersebut di atas dapat berguna.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,

sumber wwwkatolisitas.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s