Mengatasi kepanikan

Posted: 27, 2010 in Uncategorized

Bacaan: I Samuel 30:1-25

Kuasailah dirimu dan jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa.- I Petrus 4:7

Manusia itu mudah panik, termasuk kita. Ketika isu atau ancaman datang, begitu mudahnya kita kehilangan rasa aman, takut, stress lalu bertindak ngawur. Kalau tak percaya, lihatlah panic buying yang terjadi akhir-akhir ini. Mendengar berita BBM akan naik, semua orang rame-rame memborong minyak dan menimbunnya, hingga terjadi antrian panjang. Mengingatkan saya pada krisis moneter 1997 lalu, saat itu rupiah mencapai Rp. 15.000,- per dollar. Konsumen pun panik luar biasa. Mereka tidak hanya memborong beras, mie, minyak, susu dan kebutuhan pokok lainnya, tapi mereka sudah menimbunnya. Seakan-akan hari esok sudah tidak ada sembako lagi.

Jika demikian, bukan lagi kita yang menguasai keadaan, tapi kitalah yang dikuasai keadaan. Jika demikian, bukan kita yang mengontrol situasi, tapi kepanikanlah yang akhirnya mengontrol hidup kita. Panik adalah reaksi alamiah yang sangat wajar disaat ancaman datang. Kita panik ketika menerima surat pemecatan dari kantor. Kita panik ketika kita menerima hasil check-up yang menyatakan bahwa ada virus dalam tubuh kita. Kita panik ketika keluarga kita mendapat ancaman perceraian. Kita panik ketika sudah tidak ada lagi jalan keluar lagi bagi permasalahan kita.

Panik adalah reaksi wajar. Meski demikian cara kita mengatasi kepanikan harus berbeda dengan orang yang tak kenal Kristus. Kalau orang dunia mengatasi kepanikannya dengan cara yang ngawur dan menghalalkannya dengan segala cara, kita tak boleh demikian. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menguasai diri dan berusaha tenang, supaya kita dapat berdoa (I Petrus 4:7). Mengapa tenang? Karena kita yakin bahwa hal yang paling kecilpun yang terjadi dalam hidup kita adalah seijin dari Bapa kita di surga.

Langkah kedua adalah mengakui kepanikan kita dan menyerahkan ketakutan kita itu kepada Tuhan. Pengalaman serupa pernah dialami oleh Daud ketika ia ada di Ziklag. Kotanya dibakar, hartanya dijarah, anak isterinya ditawan dan ia sendiri akan dilempari batu oleh rakyatnya. Tapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan. Langkah ketiga adalah membiarkan Tuhan memimpin apa yang harus kita lakukan. Mintalah hikmat Tuhan agar kita tidak mengambil langkah-langkah yang ngawur atau salah. Kepanikan tak seharusnya mencuri damai sejahtera dan sukacita kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s